Senin, 27 Oktober 2014

benarkah tubuh ini milikmu?

Di tengah-tengah sebuah training, sang trainer memberikan arahannya.
"Letakkan kedua tangan kalian di dada kalian masing-masing!" seorang trainer memulai instruksinya.
"Letakkan, trus, dan rapat hingga kalian merasakan detak jantung kalian masing- masing!" lanjut beliau.
Aku pun menuruti kata-katanya, kuletakkan kedua tanganku perlahan ke atas dadaku. Kucari-cari sebentar, dan akhirnya terasalah detak jantungku. Aku pun menunggu instruksi selanjutnya.
"Jika sudah terasa, sekarang katakan kepada jantung Anda, Berhenti..!!"
Aku pun agak bingung dengan instruksi tersebut namun tak urung kulakukan juga.
"Katakan, dan perintahkan kepada jantung Anda untuk berhenti!!,
"Tidak mungkin!!' teriakku dalam hati,
"Tidak mungkin bisa!!"
Entah, apakah trainer tersebut mendengar apa yang kami rasakan, ia pun melanjutkan kata-katanya..
"Lihatlah.. rasakanlah..!! bahkan jantung kita pun bukan milik kita...!!", Seketika itu pula, Degg, diri ini kontan tersadar apa maksud dari semua ini.
Ya Rabb, begitu sering diri ini lupa, bahkan jantung, apa yang ada di dalam
diri kita ini sekalipun.. bukan milik kita.
Ah, padahal begitu sering kita merasa bahwa kita ada diatas segala-galanya. Seringkali manusia memandang orang lain lebih rendah, lebih buruk, lebih jelek, ataupun pandangan-pandangan yang semacamnya.
Sering kali pula manusia merasa sangat berkuasa, seolah-olah hidup dan mati orang lain berada di tangannya, tanpa sadar bahwa hidupnya sendiri sekalipun, atau bahkan tubuh nya sendiri pun, bukanlah miliknya...
***
Titanic, kapal terbesar di era awal abad
ke 20. Mampu mengangkut 3000
penumpang dari Inggris ke Amerika
Serikat.
Memiliki teknologi tercanggih saat itu.
Sebuah contoh kesombongan ummat
manusia dari perkataan pemiliknya,
"Jangankan tujuh samudera, bahkan
Tuhan pun tidak akan mampu
menenggelamkan kapal ini!"
Maka di sebuah malam yang dingin, di
pelayaran perdananya, kapal ini
menabrak sebuah gunung Es.
Kapal besar ini pun tenggelam
membawa ribuan penumpangnya,
beserta kesombongan yang
dibawanya..
Begitulah ketika sang pencipta ingin
menunjukkan kekuasaanNya atas
manusia.
Untuk menyadarkan bahwa betapa
kecil sebenarnya manusia.
Betapa lemah dan tak berdaya-nya
seorang manusia.
Lantas jika begini, sampai kapan kita
harus menunggu kehancuran karena
kesombongan kita?
Akankah kita menunggu datangnya
adzab untuk menyadarkan kita?
Akankah kita menunggu sebuah
pukulan keras dari sang Pencipta
untuk menyadarkan kita? Sungguh,
sekali-kali kita tidak akan dibiarkan
dengan kesombongan kita.
***
Kehancuran manusia ada pada saat ia
mulai sombong dengan apa yang
dimilikinya. Ketika manusia berada
pada titik tersebut, maka Tuhan akan
membalik keadaannya.
# "Kepunyaan Allah-lah segala apa yang
ada di langit dan apa yang ada di
bumi. (QS. 2:284)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar