Senin, 27 Oktober 2014

SULUK MALEMAN

Dulu Nabi Adam dikirim ke dunia dan diberi keleluasaan penuh bereksplorasi bagaimana caranya agar dapat menemukan (kesejatian) Allah kembali. Setelah 900 tahun (umur Nabi Adam di dunia) akhirnya dia bisa menemukan Allah. Namun keturunan Nabi Adam setelah itu diberi waktu bertahun-tahun belum ada yang bisa menemukan Allah kembali. Maka Allah memberi kunci atau pedoman berupa “bluluk” yang bernama Taurat (zaman Nabi Musa). Setelah itu “bluluk” berbuah menjadi “cengkir” yang bernama Zabur (zaman Nabi Daud). “Cengkir” yang mulai tua berubah menjadi “dhegan” yang bernama Injil (zaman Nabi Isa). Karena sebuah “dhegan” hanya mampu dibuat sebagai minuman saja maka disempurnakanlah menjadi “klopo” yang multiguna berupa Al Qur’an (zaman Nabi Muhammad). Harusnya “klopo” ga boleh mencela “dhegan” , “cengkir” atau “bluluk” karena mereka merupakan bagian dari proses metamorfosisnya.
Di zaman sekarang “klopo” dibagi lagi menjadi Ormas “bathok”, Ormas “parut”, Ormas “sabut”. Kebanyakan dari mereka lupa bahwa “bathok”, “parut”, dan “sabut” itu sebenarnya satu kesatuan berupa “klopo”. Kamu mungkin masuk pada Ormas “sabut” tapi ya jangan merasa “klopo” itu cuma “sabut” saja. Yang Ormas “bathok” ya sama saja, jangan merasa cuma “bathok” yang halal, sedangkan “sabut” itu haram atau “parut” itu bid’ah.
Nah, jadi sekarang sebaiknya kamu jangan ikut jadi Islam “bathok” aja, jangan ikut Islam “sabut” aja, dan lain-lain. Sadarlah bahwa Islam itu merupakan keseluruhan “klopo” itu sendiri.
-Suluk Maleman edisi Cahaya di atas Cahaya-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar